Kita dan Mereka adalah
Sama
“bunuh!! Bunuh…!!
Aaaaa….sial…dikit lagi tuh bro! bego ah…”
Teriakan Dino, temanku yang duduk berhadapan semeja denganku
“ya sabar dong, ini kan pertama kali aku main DotA gimana sih…”
Sahutku sekaligus menyembunyikan kesalahan.
Ya, aku Dio, mahasiswa tingkat
akhir di salah satu Universitas ternama di Bali yang gemar bermain game tak
peduli dimana pun dan kapanpun termasuk di tempat yang lebih layak disebut
tempat penampungan sampah sekampus, botol minuman ringan berhamburan, kertas
tugas yang gagal revisi bertebaran seperti selebaran iklan pijat plus plus yang
lagi diskon besar- besaran, dikanan tempat ku duduk, sepatu bau busuk
bertumpuk, menambah aroma kegagahan mahasiswa penghuni tempat ini yang secara
formal di sebut BEM Fakultas Teknik.
“braaakkk….!!”
“aduuuh kalian sudah pinter ya, siang malam game terus, besok ujian
jawaban nya game aja, nilai A+ sudah ditangan, hahahaha…..!!”
Tawa sinis si Rudy yang tiba-tiba
membuka pintu terdengar nyaring ditelinga kami, dan kami tahu dia begitu karena
diantara kami hanya dia yang tidak suka bermain game . Kegemaran satu-satunya
adalah “menyindir” dan selalu begitu terhadap siapapun, entah itu memang bawaan
lahir atau mungkin itu salah satu tugasnya hadir di bumi.
“diem deh, ini si Dio berkali-kali disuruh bunuh…bunuh…malah bengong
melihat musuh…main game apa ngelawak bro!!”
Dino mengumpat sambil melotot
kearah muka ku, sepertinya dia sedang datang bulan.
“waduh…kalian main game apa mau jadi pembunuh, kalau aku sih mau jadi
sarjana dong ckckckc…”
Sindiran Rudy kembali berkicau,
membuat suasana semakin penuh warna, penuh warna kelam tentunya.
“bodo!! Laper nih, pengen makan orang, aku kekantin dulu ya bro”
Dino berjalan kearah Rudy karena
sedari tadi Rudy hanya berdiri di depan pintu ruangan sambil memegangi
handphone nya yang selalu berdering entah itu alarm atau apa itu masih menjadi
misteri.
Rudy datang dan duduk dikursi
yang tadinya adalah tempat Dino berhadapan denganku.
“jadi sekarang siapa cewe incaranmu Dio?”
“cewe?” sahut ku
“iya cewe, masa cowo, atau…kamu….?” Muka Rudy memancarkan cahaya
curiga.
“atau apa? Homo? Gila kamu..aku masih normal bro, ini lagi chat
sama…..” ups aku hampir saja keceplosan. Karena belakangan ini dia tau aku
sedang dekat dengan adik kelas yang sedari masa ospek aku selalu mencuri curi
pandang.
Velin, dia gadis yang bagaikan
hujan yang menghapus musim kemarau dihatiku. Lucu, lincah, senyum nya yang
mampu membuatku lupa kalau aku hanya bisa mengaguminya.
“chat sama siapa? Velin kan? Aku sudah tahu, tadi Velin chat aku
katanya dia lagi BBMan sama kamu ciyeeee…” Rudy mengejek ku dengan bahagia,
walaupun dia berbohong karena selain menyindir, berbohong adalah keahlian
tambahan baginya.
“bukan…bukan dia…ini lain lagi…tapi rahasia lho…udah ah…yuk ke kantin sebelum
jam bimbingan” aku mengelak sambil memasukan laptop yang sudah panas bagai
knalpot mobil sport kedalam tas lusuh kesayanganku.
”ga usah bohong deh…aku setuju kamu jalan sama Velin jangan sia-siakan
kesempatan Dio nanti nyesel lho” entah apa motivasi Rudy bicara seperti itu
layaknya orang tua yang ingin anaknya segera menikah.
Anggap saja omongan Rudy angin
lalu, aku beranjak lalu menuju kantin menyusul Dino, dan Rudy pun segera
menyusul berjalan dibelakangku sambil mengoceh dengan materi bahasan yang sama
yaitu Velin.
“bu…nasi goreng satu, es teh nya dua ya” aku memesan nasi goreng
dan dua es teh, satu untuk ku dan satu untuk Rudy agar dia berhenti membahas Velin,
Velin dan Velin.
“haus sih haus tapi pesan es teh nya ga gitu juga kali” kata Rudy.
“iya es teh nya satu buat kamu Rud, aku yang bayar mau ga? Kalau ga aku
cancel nih” sahutku kesal.
”oh..bilang dong..ciyeeee yang lagi berbunga-bunga sama Velin rela
menyisihkan uang jajan buat traktir temen…ciyeee sekalian nasi gorengnya dong
tanggung amat es teh..” Rudy berkicau untuk kesekian kalinya, dan kenapa
aku tahan berteman dengan nya selama 4 tahun ini.
“ya sudah, bu nasi goreng nya lagi satu ya..” sebenarnya berat mentraktir
si sirik Rudy tapi apa boleh buat begitu adanya.
“nah gitu dong kan asik” celetuk Rudy bahagia, lalu diam dan
kembali asik dengan handphone nya. Dengan nasi goreng dan es teh aku sukses
membuatnya berhenti membahas Velin yang……emmmh….oh Velin manismu membayang,
membekas dibenak ku, senyum mu ooooh….
(berbisik) “Rud..Rudy..kenapa tuh Dio senyum-senyum?” Tanya Dino kepada Rudy
sambil mengunyah makanan nya yang dari tadi ga habis-habis.
Rudy menoleh, dan…
“plaaak!!! woiiii…!! Senyum senyum…mikirin Velin ya? Ciyeeee” teriak Rudy sambil menepuk bahuku dengan
sangat keras.
Ya ampun, ternyata dia berhenti
membahas Velin hanya dalam hitungan menit, bahkan sebelum nasi goreng pesananku
tiba, bodo amat cuekin aja tuh mereka berdua yang udah bikin kesel, yang satu
ngomel tentang game, yang satu lagi ngoceh ngatain Velin mulu.
Dari arah ruangan kelas yang
jaraknya kurang lebih 100 meter dari kantin tempat kami duduk, terlihat adik
kelasku datang kearah kami, dengan baju bergambar band PUNK, celana jeans
robek, dan rambut Mohawk.
“wih ada Rudy, Dino sama boss ku” sapa nya penuh semangat, tentu
saja yang dimaksud boss itu adalah aku entah karena apa, mungkin karena aku keturunan saudagar kaya,
mungkin…ya mungkin lho….
Dia adalah Coki, anak muda penuh
talenta, kritis, dan peka terhadap isu sosial, dia merupakan keturunan raja
disalah satu kerajaan besar di Bali, dan seorang PUNKer yang berambisi menjadi
anggota dewan. Ironis bukan? Keturunan raja yang juga penganut PUNK-isme, dan
bercita-cita menjadi anggota dewan.
Coki pun menaruh tas nya
disampingku, lalu duduk bersebelahan dengan Rudy.
“eh eh liat nih…di facebook orang-orang pada nulis status dimana-mana
macet, gini nih pertumbuhan masyarakat terlalu pesat, punya anak banyak-banyak
banget gimana ga penuh tuh jalanan” Rudy menyampaikan berita lalu lintas
melalui status facebook kepada kami bertiga layaknya pembawa acara terkenal.
Bukan Coki namanya klo hanya diam
saja mendengar berita semacam itu, dia segera merespon.
“nah itu…itu tuh! Yang katanya
ikuti program Keluarga Berencana dua anak cukup, itu konspirasi bro!! untuk
menghilangkan anak ketiga dan keempat generasi orang Bali yaitu Nyoman dan
Ketut, agar orang Hindu Bali itu punah,
lalu masuk agama lain. Iya sih mengontrol laju perkembangan penduduk, tapi kan
gimana nasib Nyoman dan Ketut tadi klo hanya dua anak yang diprogramkan?
Harusnya pemerintah punya solusi yang lebih baik. Coba kalian pikir, orang Jawa
itu mau menguasai Bali, ya dengan konspirasi itu, aku benci orang Jawa! Orang
Bali yang pacaran dengan orang Jawa itu goblok!” Coki berkomentar bagaikan
pidato upacara 17 Agustus.
Benar saja, semua hal selalu
berhubungan dengan Velin, kenapa? Mengapa? Apa hubungan Velin dengan pidato si
Coki tadi?
Ya benar, Velin adalah seorang
muslim yang berasal dari Jawa. Dan aku? Aku suka sama dia, kata Coki orang Bali
yang pacaran dengan orang Jawa itu goblok, kalau hanya suka dan bukan pacaran
apakah aku termasuk diantara yang goblok itu?
“dik ini nasi gorengnya, es teh nya nyusul ya” ibu kantin membuat
konsentrasiku buyar.
Aku kembali berkonsentrasi sambil
menikmati nasi goreng. Apapun, bagaimanapun, dengan mengesampingkan fakta bahwa
aku suka dengan Velin, aku tetap tidak bisa menerima statemen si Coki, karena
itu sudah mengkotak-kotakan Agama dan Suku, sedangkan Indonesia tidak seperti
itu adanya, kita adalah satu, dan generasi muda boleh kritis namun tidak
anarkis seperti pendapat Coki tadi. Tapi bagaimana cara mematahkan argumen
tersebut? Ini sangat sensitive, apa kata Rudy jika aku dikatakan semata-mata
membela posisi Velin sebagai orang Jawa hanya karena aku suka dengannya.
Tidak!! Aku cinta perdamaian, kedamaian, dan apapun yang berorientasi pada kata
“DAMAI” dan aku harus adu argument.
“emhh…jadi begini, aku setuju tentang mencegah generasi Nyoman dan
Ketut biar ga punah, tapi apa harus menyalahkan satu agama dan suku, sedangkan
sebagai masyarakat Indonesia tidak peduli kita agama dan suku apapun kita
adalah penganut pancasila, tau pancasila kan kalian? Tahu lah udah mahasiswa
begini, tapi cobalah open mind sedikit, kalian terlalu banyak mengkonsumsi
media social yang itu sama aja seperti kabar burung elektronik, semua berita
isu agama dan suku tidak benar adanya, itulah konspirasi terlebih ini masa
pemilihan presiden, untuk menjatuhkan saingan calon presiden satu sama lain,
dengan dalih suku dan agama, kalian itu terpancing menyalahkan agama dan suku
lain, kalaupun ada oknum yang mengatasnamakan agama, cobalah ditelaah itu juga
konspirasi, bukan cuma golongan lain yang anti mereka, bahkan sesama agama yang
diusung pun juga menolak tindakan seperti mereka, jadi sikap rasis seperti
inilah yang mereka inginkan agar mudah memecah belah bangsa, kita disini kuliah
berteman dengan banyak suku dan agama, apa kalian masih mau membeda bedakan
mereka? Sedangkan kemarin kemarin kalian akrab dengan mereka. Jadi kalau
pacaran dengan orang Jawa itu goblok, apakah berteman dengan orang Jawa itu
tidak goblok? Kalau goblok juga, berarti kalian juga goblok?” Aku
berargumen dengan sedikit nada meninggi sambil meminum es teh karena ternyata
susah juga bicara sambil mengunyah nasi goreng.
“wow…jadi karena Velin kamu bisa
pintar bicara begini? Enak juga nih nasi goreng gratisan haha…”
Rudy merespon dengan sangat tidak
nyambung dan tidak berbobot
“hahaha….” Dino dan Coki ikut tertawa
Sudah kuduga si tukang nyindir
pasti merespon, tapi aku lihat si Coki masih tertawa, apakah dia masih
menertawakan ku atau sedang berpikir menjawab argumen ku?
“ya..ya…ya…apapun itu aku benci orang Jawa” Coki diam sejenak lalu
tertawa lagi.
“Benci aja ga apa apa, tapi kalau kamu juga dibenci suku lain ya
sah-sah aja, kita bukan kaum dewa yang boleh membenci tapi ga mau membenci,
coba buka pikiran atau aku ambilkan pembuka tutup botol punya ibu kantin?” sahutku
emosi, karena aku kurang bisa beradaptasi dengan orang yang keras kepala.
Coki bengong seakan otak nya
kosong, diformat ulang, di scan anti-virus, install ulang
“bener juga ya? Seperti nya aku harus merubah mindset tapi aku masih
benci dengan oknum oknum radikal yang mengatasnamakan agama sebagai tameng
kebal hukum, ah sudahlah, aku masih ada kuliah lagi, cabut duluan ya” Coki
pun bergegas mengambil tas yang tadi dia letakkan disebelahku. Walaupun masih
ada bau kebencian pada Coki, setidaknya dia sudah tidak menggunakan kata-kata
“orang Jawa” lagi dan menggantinya dengan kata “oknum”.
“aku juga, dosen pembimbingku sudah menunggu, sampai jumpa
Velin,,ups…Diooo…hahaha” Rudy pun meninggalkan kantin dengan perut kenyang
hasil nasi goreng gratisan.
Huuh…Velin lagi Velin lagi…tapi
ngomong-ngomong Velin blm membalas chat ku, atau mungkin dia sibuk ya? Atau dia
tersinggung karena kami membahas agama dan suku tadi? Tapi dia kan tidak
mendengar percakapan kami? Pikiran macam apa ini. Lupakan.
“kalian tadi membahas apa sih?
Rangkuman sinetron ya?”
Tanya Dino tiba-tiba yang sedari
tadi dia hanya bermain game di handphone kesayangan nya. Ya dia memang tidak peka terhadap isu sosial
maupun hal hal lain yang tidak ada hubungan nya dengan game atau film box
office, karena hanya dua hal itu yang
membuatnya memiliki semangat hidup.
“sudahlah, ayo kita main DotA lagi” ajak ku sambil bergegas
membayar pesananku ke kasir.
“yakin main DotA? Bisa bunuh musuh ga? Nanti goblok lagi seperti tadi
males ah, kamu cupu sih” Dino mengoceh seakan dia gamer paling hebat di
luar angkasa.
“ya udah kalau gitu, aku balik kerumah ya, biasa latihan DotA dulu biar
jago hahaha…” aku berpamitan dengan Dino.
“okelah…jangan goblok lagi lho…” Dino menjawab dengan masih merasa
gamer paling hebat.
Aku pun bergegas menuju parkir
lalu pulang kerumah dengan gagah perkasa karena sudah melontarkan argumen yang
membuat si calon anggota dewan tak mampu berkata-kata hahaha.
Aku bukan “diskrimitator”
“selamat pagi!!”
Itulah status ku di semua akun
social media yang aku miliki, iya sih ini sudah jam 11 siang, tapi terserahlah
karena menurutku pagi adalah ketika aku baru bangun.
Membuka mata, melihat handphone
siapa tau ada ucapan selamat pagi dari cewe atau Velin mungkin, dan ternyata
tidak ada ucapan apapun, sudahlah lupakan, beranjak dari tempat tidur,
menghidupkan komputer, bermain game itulah kegiatan ku sehari-hari karena tugas-tugas
kuliahku sudah mulai mereda, jabatan “gila game” tidak membuatku lupa
mengerjakan tugas-tugasku.
“bruuumm….bruuuummmm..!!”
Aku mengenali suara ini, bukan
mobil balap, bukan juga motor balap, hanya motor tua yang biasa muncul di film
tahun 80an. Siapa lagi kalau bukan Wahyu, penggemar SLANK alias slanker yang
rambutnya sudah bagaikan senar gitar putus dengan kumis terurai seperti gorden
india mengunjungi rumahku.
“Dio! Buka youtube..slank…youtube dong youtube…slank slank!”
Aku tidak mengerti, begitu datang
parkir motor tuanya, masuk kekamarku dan
tiba-tiba ngebacot seperti itu.
“apaan….santai dong…lagi main game nih” jawabku risih.
“slank slank….balikin ohhh oh balikin bodi gue kaya dulu lageee…” dia
mengambil gitar yang sudah aku letakkan rapi disudut kamar.
Ya Tuhan, hancur sudah hari libur
yang indah ini, rencana jadwal kegiatan yang sudah tersusun rapi jadi runyam
gara-gara si kumis gorden.
“ya udah, ini laptop, ini modem, dan ini youtube, cari sendiri sana
slank mu” ku ikhlaskan kuota
internet untuk dia asalkan game ini berjalan lancar tanpa gangguan.
“emmm….jangan slank deh itu apa namanya Hilton Hilton bagus tuh
lagunya..apa ya namanya…woeeee Dio…apa ya namanya...Diooo!!!” Wahyu teriak
keras.
“aaaaah kampreeeet!! Apa lagi sih…Paris Hilton!!! Aduuuuh ga mood ah
main game, ngerecokin mulu nih” sahutku
kesal berkalang benci.
“nah iya Paris Hilton good job, eh daripada bengong jalan- jalan yuk
kepantai, anak pantai brooo!!” ajaknya dengan penuh semangat dan dengan
bangganya mengatakan “daripada bengong” padahal dari tadi aku sibuk bermain
game tapi dia bilang “BENGONG” what the preeet!
“bipp bipp…”
“kak..
Ikut kita jalan-jalan yuk
Kepantai sama temen-temen”
Nada bbm ku berdering, dan yang
benar saja, entah kebetulan atau tidak, Velin mengajak ku jalan-jalan ke pantai
dengan teman-teman nya.
“Wahyu , kamu serius mau kepantai? Yakin? Ayo ikut Velin kan lumayan
tuh rame-rame daripada cuma kita berdua udah kaya homo.” Aku menawarkan
kabar gembira kepada Wahyu.
“hah? Velin? Kok bisa sama Velin? Ah aku malu jalan-jalan sama cewe” jawab
Wahyu malu malu kucing, eh malu malu anjing deh.
“iya kenapa, malah bagus jalan-jalan sama cewe kan refresh otak bro
daripada sama cowo mlulu basi” aku berusaha meyakinkan dia.
“emhh..oke deh…berangkat!! Pantai brooo!!!” semangat Wahyu memang
tidak tertandingi.
“oke Velin, kalau sudah didepan gang kabari ya, aku jalan sama Wahyu,
boleh kan Wahyu ikut? Apa mobilnya muat? Kan rambut si Wahyu banyak ngabisin
space” aku membalas bbm Velin.
“boleh kak ajak aja kak Wahyu biar rame” balas Velin.
Singkatnya, kami semua sudah
berada didalam mobil Velin dengan formasi
menyerang dan bertahan 2-2-2,
Ardi dan Sandra di lini depan, Velin dan Putri di lini tengah, dan tentu saja
Aku dan Wahyu menjadi background duduk dibelakang dihiasi balon gas berbentuk
bocah warna pink dan kami bangga tentunya.
“wah tumben menculik kak Dio dan kak Wahyu nih, kalian ga sibuk kan?” Tanya
Sandra yang entah kebetulan atau takdir, celana ku dan dia memiliki model yang sama
yaitu “robek dipaha”.
“gak kok kita memang pengen jalan-jalan, kebetulan ada kalian”
jawabku.
“Yap!! Tepat sekali” tambah wahyu menegaskan.
Aroma pantai sudah melesat
menghampiri hidung, sudah dekat nih.
“sudah sampai!! Turun-turun!” kata si supir, eh si Ardi dengan
badan nya yang besar mengambil tas kamera layaknya fotografer terkenal.
“emmhh….haaaahhhhh…..” menghirup
udara pantai, senangnya, serasa bebas, melepas penat. Disebelah kanan hamparan
tebing menjulang dengan pohon-pohon entah pohon apa namanya, didepan ada
hamparan laut biru yang aku yakin pasti banyak ikan nya, terbukti banyak
pemancing berdiri disudut tebing yang mungkin kalau ga dapet ikan mereka
langsung nyebur, disebelah kiri terdapat hamparan hotel emm…sudahlah ga usah
dibahas hotelnya.
“Dio..ayo kita kesana” ajak Wahyu sambil menunjuk tepi pantai yang
rame orang berpose untuk difoto, ada yang foto prawed, ada yang selfie, ada
yang ehm…ciuman, pijat memijat dan aaaah kegiatan kegiatan suram deh.
Sementara itu Velin, Sandra,
Putri dan Ardi sibuk dengan kamera DSLR yang sedari tadi di setting oleh Ardi
mungkin agar gambar yang suram terlihat lebih bagus atau apalah itu.
Karena kami berangkat agak telat,
yang seharusnya berangkat jam 3 sore menjadi jam 5 sore, maka hari cepat gelap,
sesi pemotretan segera berhenti, dan dilanjutkan sesi curhat para wanita yang
kami tidak mengerti mereka membahas apa. Aku dan Wahyu memilih melihat lihat
orang memancing sedangkan Ardi menemani
para wanita bertutur kata di salah satu tebing datar buatan tepat diseberang
tempatku berdiri.
“udah gelap nih balik yuk cari makan, laper nih” ajak Sandra yang
mungkin lupa akan program dietnya.
“oke ayooo…cari kopi juga biar mantap” sahut ku.
Kami segera beranjak namun didalam
mobil, terjadi konflik dalam hati ku, dialog dalam mobil yang kurang berkenan
bagiku, merusak idealisme yang aku pegang teguh, terlebih ini terjadi antara
aku dan…iya Velin si gadis pujaan ku yang sudah menjudge ku secara mendadak dan
signifikan, percakapan yang terjadi :
Velin : kak lihat foto yang aku
posting, padahal cuma siluet ga kelihatan wajah masa dibilang cantik sih?
Aku : tapi kamu suka kan dibilang
cantik?
Velin : ga suka, aku pengen yang
jujur, kalau jelek ya jelek
Aku : tapi terkadang pujian kecil
juga perlu untuk suatu hubungan lho
Velin : engga ah..aku ga pernah
memuji dan ga suka dipuji kalau itu bohong
Aku: tapi masa iya dalam pacaran
si cowo ga pernah sekali pun bilang kamu cantik? Apa kamu ga BT? Apa kamu ga
berpikir kenapa cowo mu ga pernah memuji kamu, makanya pujian kecil semacam itu
perlu juga lho walaupun cuma 1%.
Velin : iya deh nanti kalau aku
punya cowo aku bakal puji dia “ya Allah,
kamu ganteng sekali!”
Aku : ya ga usah lebay gitu dong
Velin :apa!!? Kakak bilang itu
lebay? Itu bagi muslim sangat berarti, aku ga suka kakak bilang begitu!!
Aku : ya ampuun…aku tahu itu,
tapi bukan itu maksudku, yang lebay itu caramu memuji cowo, kan aku bilang
cukup 1 % pujian kecil, bukan “ya Allah” nya yang lebay aduuuh..
Velin : Saran ku kak, coba deh
kurangi sifat menyebalkan kakak… kalau lagi kesel, jangan dilampiaskan ke orang
lain
Aku : biar aja orang sebel ya
sebel…
Aku dan Velin terdiam, aku sudah
kehilangan mood saat itu, aku merasa dia salah paham, dan aku sudah di judge
diskriminatif terhadap agamanya, apa yang salah? Kenapa dia begitu sensitive?
Yang aku bahas bukan masalah agama, tapi cara memuji seorang cowo, tapi kenapa
jadi masalah agama. Sesensitif inikah pola pikir generasi sekarang? Bagaimana
dengan yang lain? Wajar saja di media social berhamburan postingan saling hina
agama lain, beginikah karakter generasi muda Indonesia saat ini? Hancur
perasaanku yang memegang teguh Anti-Tolerance setelah di judge Velin seperti
itu. Kami tidak bicara sepanjang perjalanan hingga Velin tertidur dan aku
kembali pulang kerumah bersama Wahyu, entah mereka sadar atau tidak
perbincanganku dengan Velin sangat sensitive atau pura-pura tidak tahu karena
pembahasan yang terlalu berat, aku hanya bisa cuek dan tidak habis pikir bahwa
Velin yang aku kagumi berpikir sependek itu, dimana selama ini aku selalu
mencoba menghargai pemeluk agama lain.
Tiba dirumah, aku menunggu bbm
dari Velin tapi tetap tidak ada bbm dari dia, aku putuskan mengirim bbm duluan,
dan dia membalas, terjadi chat basa basi yang ujung nya mengarah pada
permasalahan tadi, aku menjelaskan panjang lebar, dia hanya membaca saja tanpa
membalas ditandai dengan huruf “R” pada chat yang aku kirim.
Biar saja, aku pikir, mungkin dia
memang sangat tersinggung atau malas membahasnya karena dia bukan tipe pemikir
seperti aku yang apapun selalu aku pikirkan.
Aku pun beranjak tidur, ditemani
alunan music country yang sangat sangat mendamaikan hati. Ke esokan hari nya,
tepatnya pukul 08.45 “triitt triiitt…”
bbm ku berbunyi, entah sejak kapan nada deringnya berubah dari
bipp….bipp.... menjadi triit triiit….
Itu bbm dari Velin!!
Segera aku membacanya, sambil
mengira-ngira apa yang akan dia katakan setelah membaca chat ku kemarin malam.
“aku baru bangun..hoaammm”
Kriik kriiik, tiba – tiba
terdengar suara jangkrik, hanya itu? Hanya itu balasan nya?
Aku berusaha berpikir positif, mungkin
Velin ingin melupakan perdebatan kemarin, baiklah tidak masalah karena ga ada
gunanya jika diperpanjang, mungkin ini lebih baik dengan harapan dalam benaknya
aku tidak dicap sebagai seorang yang diskrimnatif, aku tidak mau,,,TIDAK MAU!!!
Oke! Aku beranjak dari tempat
tidur, menghidupkan komputer dan….iya! bermain game berharap di kumis gorden
Wahyu tidak datang lagi dan semua berjalan lancar.
Bunga Yang Indah, Biji
Yang Terlupakan
Dear diare, ups!
maksudku diary, yak elah Rock Star punya diary? Apa kata kucingku yang sedang
asik tidur diatas bantal kesayanganku.
Pagi ini indah,
iya indah karena hari ini hari libur, walaupun mendung sepanjang mata memandang
keatas.
Masih ingat
Velin? Ya benar dia bocah kecil lucu yang hingga saat ini masih aku dambakan,
hubungan ku yang dulu hanya teman sekarang sudah naik level menjadi seorang “kakak”,
jadi? Apakah aku harus bahagia? Senang? Sedih? Berduka? Aku bingung,
“trriiittt…triiiittt”
nada bbmku terdengar jelas, oh ternyata bukan bbm tapi LINE. Yak!! Velin!! Hahaha
beberapa minggu ini kami intens berkomunikasi walaupun sempat naik turun
seperti pelana kuda, namun tetap itu karena aku yang selalu cemburu ketika tau
dia dekat dengan cowok lain, ironis, sungguh, aku ini siapa? Lalu kenapa
cemburu? Lupakan!
“kk” hanya dua
huruf itu yang tertera pada chat yang dia kirim
“wah si bocah
baru bangun nih” balasku
“iya kak,
kemarin buat tugas sampai jam 4 pagi lho, syukur sekarang sudah selesai. Lagi apa?”
balasnya lagi
Bla…bla…bla……obrolan
kami berlanjut hingga malam hari, benar saja mengobrol dengan nya bisa membuatku
lupa melakukan apapun.
Disela sela
obrolan chat, kami sempat berdebat kecil, dan muncul dialog :
Aku : ya udah
ayo kita duel
Velin : ah aku ga
mau kak
Aku : oke kita
pegang hidung, siapa yang pegang hidung duluan dia yang menang
Velin : jangan
hidung dong kak, nanti hidungku tambah sexy hahaha
Aku: kalau
begitu aku tiup hidungmu aja
Velin : loh kok
ditiup, emangnya hidungku balon?
Aku : bukan,
tapi Dandelion
Velin : apa itu?
Aku sudah
menduga dia akan bertanya, dan sebelumnya aku sudah mengambil gambar Dandelion
dari internet lalu aku kirim melalui chat, dan mengatakan itulah dandelion
Velin : oh aku
tau, kenapa ya lihat dandelion aku merasa ada seuatu, aku dapet arti dari
dandelion, Indah, tapi sayang rapuh, keindahan nya hanya buat orang puas
meniupnya, udah gitu ya udah, tapi bunga dandelion ini bisa buat orang yang
lihat tersenyum ketika dia mulai terbang, tapi kalau aku jadi dandelion aku
seneng bisa buat orang tersenyum, aku rela terbang hilang tak terlihat dan
bukan apa-apa lagi, rasa di hati ini ganjal banget !!! ada sesuatau rasanya
Membaca filosofi
Velin tentang dandelion membuat ku kaget, seperti itukah isi hati yang sedang
dia rasakan sekarang? Lalu kenapa sejalan dengan kondisiku saat ini, yang aku
juga merasa seperti itu,
“Velin, apa yang mengganjal dihatimu? Lalu kenapa
kamu mengibaratkan dirimu seperti dandelion? Apakah ada namaku didalam ganjalanmu?
Aku rasa tidak, karena kamu selalu menyangkal dan mengatakan tidak pernah
berpikir tentang cowok walaupun aku tidak tau itu jujur atau tidak, kamu begitu
misterius Vel” tentu saja aku
berkata demikian hanya didalam hati.
Sejujurnya aku lupa
percakapan setelah itu, setidaknya aku seakan-akan merasakan apa yang dia
rasakan, dan mulai berfilosofi sederhana terhadap dandelion, apa aku juga
seperti dandelion? Kalaupun iya, aku siap terbang, tapi kalau boleh meminta aku
tidak ingin terbang karena angin, aku ingin ditiup oleh Velin agar dia bisa tersenyum
melihatku terbang seperti filosofi yang dia sampaikan ” ….dandelion ini bisa buat orang yang lihat tersenyum ketika dia mulai
terbang……”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar