Sabtu, 24 Januari 2015

Cerita Kecil Untuk Kamu

 Kita dan Mereka adalah Sama

 “bunuh!! Bunuh…!! Aaaaa….sial…dikit lagi tuh bro! bego ah…”
Teriakan Dino,  temanku yang duduk berhadapan semeja denganku
“ya sabar dong, ini kan pertama kali aku main DotA gimana sih…”
Sahutku sekaligus menyembunyikan kesalahan.
Ya, aku Dio, mahasiswa tingkat akhir di salah satu Universitas ternama di Bali yang gemar bermain game tak peduli dimana pun dan kapanpun termasuk di tempat yang lebih layak disebut tempat penampungan sampah sekampus, botol minuman ringan berhamburan, kertas tugas yang gagal revisi bertebaran seperti selebaran iklan pijat plus plus yang lagi diskon besar- besaran, dikanan tempat ku duduk, sepatu bau busuk bertumpuk, menambah aroma kegagahan mahasiswa penghuni tempat ini yang secara formal di sebut BEM Fakultas Teknik.
“braaakkk….!!”
“aduuuh kalian sudah pinter ya, siang malam game terus, besok ujian jawaban nya game aja, nilai A+ sudah ditangan, hahahaha…..!!”
Tawa sinis si Rudy yang tiba-tiba membuka pintu terdengar nyaring ditelinga kami, dan kami tahu dia begitu karena diantara kami hanya dia yang tidak suka bermain game . Kegemaran satu-satunya adalah “menyindir” dan selalu begitu terhadap siapapun, entah itu memang bawaan lahir atau mungkin itu salah satu tugasnya hadir di bumi.
“diem deh, ini si Dio berkali-kali disuruh bunuh…bunuh…malah bengong melihat musuh…main game apa ngelawak bro!!”
Dino mengumpat sambil melotot kearah muka ku, sepertinya dia sedang datang bulan.
“waduh…kalian main game apa mau jadi pembunuh, kalau aku sih mau jadi sarjana dong ckckckc…”
Sindiran Rudy kembali berkicau, membuat suasana semakin penuh warna, penuh  warna kelam tentunya.
“bodo!! Laper nih, pengen makan orang, aku kekantin dulu ya bro”
Dino berjalan kearah Rudy karena sedari tadi Rudy hanya berdiri di depan pintu ruangan sambil memegangi handphone nya yang selalu berdering entah itu alarm atau apa itu masih menjadi misteri.
Rudy datang dan duduk dikursi yang tadinya adalah tempat Dino berhadapan denganku.
“jadi sekarang siapa cewe incaranmu Dio?”
“cewe?” sahut ku
“iya cewe, masa cowo, atau…kamu….?” Muka Rudy memancarkan cahaya curiga.
“atau apa? Homo? Gila kamu..aku masih normal bro, ini lagi chat sama…..” ups aku hampir saja keceplosan. Karena belakangan ini dia tau aku sedang dekat dengan adik kelas yang sedari masa ospek aku selalu mencuri curi pandang.
Velin, dia gadis yang bagaikan hujan yang menghapus musim kemarau dihatiku. Lucu, lincah, senyum nya yang mampu membuatku lupa kalau aku hanya bisa mengaguminya.
“chat sama siapa? Velin kan? Aku sudah tahu, tadi Velin chat aku katanya dia lagi BBMan sama kamu ciyeeee…” Rudy mengejek ku dengan bahagia, walaupun dia berbohong karena selain menyindir, berbohong adalah keahlian tambahan baginya.
“bukan…bukan dia…ini lain lagi…tapi rahasia lho…udah ah…yuk ke kantin sebelum jam bimbingan” aku mengelak sambil memasukan laptop yang sudah panas bagai knalpot mobil sport kedalam tas lusuh kesayanganku.
”ga usah bohong deh…aku setuju kamu jalan sama Velin jangan sia-siakan kesempatan Dio nanti nyesel lho”  entah apa motivasi Rudy bicara seperti itu layaknya orang tua yang ingin anaknya segera menikah.
Anggap saja omongan Rudy angin lalu, aku beranjak lalu menuju kantin menyusul Dino, dan Rudy pun segera menyusul berjalan dibelakangku sambil mengoceh dengan materi bahasan yang sama yaitu Velin.
“bu…nasi goreng satu, es teh nya dua ya” aku memesan nasi goreng dan dua es teh, satu untuk ku dan satu untuk Rudy agar dia berhenti membahas Velin, Velin dan Velin.
“haus sih haus tapi pesan es teh nya ga gitu juga kali” kata Rudy.
“iya es teh nya satu buat kamu Rud, aku yang bayar mau ga? Kalau ga aku cancel nih” sahutku kesal.
”oh..bilang dong..ciyeeee yang lagi berbunga-bunga sama Velin rela menyisihkan uang jajan buat traktir temen…ciyeee sekalian nasi gorengnya dong tanggung amat es teh..” Rudy berkicau untuk kesekian kalinya, dan kenapa aku tahan berteman dengan nya selama 4 tahun ini.
“ya sudah, bu nasi goreng nya lagi satu ya..” sebenarnya berat mentraktir si sirik Rudy tapi apa boleh buat begitu adanya.
“nah gitu dong kan asik” celetuk Rudy bahagia, lalu diam dan kembali asik dengan handphone nya. Dengan nasi goreng dan es teh aku sukses membuatnya berhenti membahas Velin yang……emmmh….oh Velin manismu membayang, membekas dibenak ku, senyum mu ooooh….
(berbisik) “Rud..Rudy..kenapa tuh Dio senyum-senyum?” Tanya Dino kepada Rudy sambil mengunyah makanan nya yang dari tadi ga habis-habis.
Rudy menoleh, dan…
“plaaak!!! woiiii…!! Senyum senyum…mikirin Velin ya? Ciyeeee”  teriak Rudy sambil menepuk bahuku dengan sangat keras.
Ya ampun, ternyata dia berhenti membahas Velin hanya dalam hitungan menit, bahkan sebelum nasi goreng pesananku tiba, bodo amat cuekin aja tuh mereka berdua yang udah bikin kesel, yang satu ngomel tentang game, yang satu lagi ngoceh ngatain Velin mulu.
Dari arah ruangan kelas yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari kantin tempat kami duduk, terlihat adik kelasku datang kearah kami, dengan baju bergambar band PUNK, celana jeans robek, dan rambut Mohawk.
“wih ada Rudy, Dino sama boss ku” sapa nya penuh semangat, tentu saja yang dimaksud boss itu adalah aku entah karena apa, mungkin  karena aku keturunan saudagar kaya, mungkin…ya mungkin lho….
Dia adalah Coki, anak muda penuh talenta, kritis, dan peka terhadap isu sosial, dia merupakan keturunan raja disalah satu kerajaan besar di Bali, dan seorang PUNKer yang berambisi menjadi anggota dewan. Ironis bukan? Keturunan raja yang juga penganut PUNK-isme, dan bercita-cita menjadi anggota dewan.
Coki pun menaruh tas nya disampingku, lalu duduk bersebelahan dengan Rudy.
“eh eh liat nih…di facebook orang-orang pada nulis status dimana-mana macet, gini nih pertumbuhan masyarakat terlalu pesat, punya anak banyak-banyak banget gimana ga penuh tuh jalanan” Rudy menyampaikan berita lalu lintas melalui status facebook kepada kami bertiga layaknya pembawa acara terkenal.
Bukan Coki namanya klo hanya diam saja mendengar berita semacam itu, dia segera merespon.
 “nah itu…itu tuh! Yang katanya ikuti program Keluarga Berencana dua anak cukup, itu konspirasi bro!! untuk menghilangkan anak ketiga dan keempat generasi orang Bali yaitu Nyoman dan Ketut, agar orang Hindu  Bali itu punah, lalu masuk agama lain. Iya sih mengontrol laju perkembangan penduduk, tapi kan gimana nasib Nyoman dan Ketut tadi klo hanya dua anak yang diprogramkan? Harusnya pemerintah punya solusi yang lebih baik. Coba kalian pikir, orang Jawa itu mau menguasai Bali, ya dengan konspirasi itu, aku benci orang Jawa! Orang Bali yang pacaran dengan orang Jawa itu goblok!” Coki berkomentar bagaikan pidato upacara 17 Agustus.
Benar saja, semua hal selalu berhubungan dengan Velin, kenapa? Mengapa? Apa hubungan Velin dengan pidato si Coki tadi?
Ya benar, Velin adalah seorang muslim yang berasal dari Jawa. Dan aku? Aku suka sama dia, kata Coki orang Bali yang pacaran dengan orang Jawa itu goblok, kalau hanya suka dan bukan pacaran apakah aku termasuk diantara yang goblok itu?
“dik ini nasi gorengnya, es teh nya nyusul ya” ibu kantin membuat konsentrasiku buyar.
Aku kembali berkonsentrasi sambil menikmati nasi goreng. Apapun, bagaimanapun, dengan mengesampingkan fakta bahwa aku suka dengan Velin, aku tetap tidak bisa menerima statemen si Coki, karena itu sudah mengkotak-kotakan Agama dan Suku, sedangkan Indonesia tidak seperti itu adanya, kita adalah satu, dan generasi muda boleh kritis namun tidak anarkis seperti pendapat Coki tadi. Tapi bagaimana cara mematahkan argumen tersebut? Ini sangat sensitive, apa kata Rudy jika aku dikatakan semata-mata membela posisi Velin sebagai orang Jawa hanya karena aku suka dengannya. Tidak!! Aku cinta perdamaian, kedamaian, dan apapun yang berorientasi pada kata “DAMAI” dan aku harus adu argument.
“emhh…jadi begini, aku setuju tentang mencegah generasi Nyoman dan Ketut biar ga punah, tapi apa harus menyalahkan satu agama dan suku, sedangkan sebagai masyarakat Indonesia tidak peduli kita agama dan suku apapun kita adalah penganut pancasila, tau pancasila kan kalian? Tahu lah udah mahasiswa begini, tapi cobalah open mind sedikit, kalian terlalu banyak mengkonsumsi media social yang itu sama aja seperti kabar burung elektronik, semua berita isu agama dan suku tidak benar adanya, itulah konspirasi terlebih ini masa pemilihan presiden, untuk menjatuhkan saingan calon presiden satu sama lain, dengan dalih suku dan agama, kalian itu terpancing menyalahkan agama dan suku lain, kalaupun ada oknum yang mengatasnamakan agama, cobalah ditelaah itu juga konspirasi, bukan cuma golongan lain yang anti mereka, bahkan sesama agama yang diusung pun juga menolak tindakan seperti mereka, jadi sikap rasis seperti inilah yang mereka inginkan agar mudah memecah belah bangsa, kita disini kuliah berteman dengan banyak suku dan agama, apa kalian masih mau membeda bedakan mereka? Sedangkan kemarin kemarin kalian akrab dengan mereka. Jadi kalau pacaran dengan orang Jawa itu goblok, apakah berteman dengan orang Jawa itu tidak goblok? Kalau goblok juga, berarti kalian juga goblok?” Aku berargumen dengan sedikit nada meninggi sambil meminum es teh karena ternyata susah juga bicara sambil mengunyah nasi goreng.
 “wow…jadi karena Velin kamu bisa pintar bicara begini? Enak juga nih nasi goreng gratisan haha…”
Rudy merespon dengan sangat tidak nyambung dan tidak berbobot
“hahaha….” Dino dan Coki ikut tertawa
Sudah kuduga si tukang nyindir pasti merespon, tapi aku lihat si Coki masih tertawa, apakah dia masih menertawakan ku atau sedang berpikir menjawab argumen ku?
“ya..ya…ya…apapun itu aku benci orang Jawa” Coki diam sejenak lalu tertawa lagi.
“Benci aja ga apa apa, tapi kalau kamu juga dibenci suku lain ya sah-sah aja, kita bukan kaum dewa yang boleh membenci tapi ga mau membenci, coba buka pikiran atau aku ambilkan pembuka tutup botol punya ibu kantin?” sahutku emosi, karena aku kurang bisa beradaptasi dengan orang  yang keras kepala.
Coki bengong seakan otak nya kosong, diformat ulang, di scan anti-virus, install ulang
“bener juga ya? Seperti nya aku harus merubah mindset tapi aku masih benci dengan oknum oknum radikal yang mengatasnamakan agama sebagai tameng kebal hukum, ah sudahlah, aku masih ada kuliah lagi, cabut duluan ya” Coki pun bergegas mengambil tas yang tadi dia letakkan disebelahku. Walaupun masih ada bau kebencian pada Coki, setidaknya dia sudah tidak menggunakan kata-kata “orang Jawa” lagi dan menggantinya dengan kata “oknum”.
“aku juga, dosen pembimbingku sudah menunggu, sampai jumpa Velin,,ups…Diooo…hahaha” Rudy pun meninggalkan kantin dengan perut kenyang hasil nasi goreng gratisan.
Huuh…Velin lagi Velin lagi…tapi ngomong-ngomong Velin blm membalas chat ku, atau mungkin dia sibuk ya? Atau dia tersinggung karena kami membahas agama dan suku tadi? Tapi dia kan tidak mendengar percakapan kami? Pikiran macam apa ini. Lupakan.
“kalian tadi membahas apa sih? Rangkuman sinetron ya?”
Tanya Dino tiba-tiba yang sedari tadi dia hanya bermain game di handphone kesayangan nya.  Ya dia memang tidak peka terhadap isu sosial maupun hal hal lain yang tidak ada hubungan nya dengan game atau film box office, karena hanya dua hal itu yang  membuatnya memiliki semangat hidup.
“sudahlah, ayo kita main DotA lagi” ajak ku sambil bergegas membayar pesananku ke kasir.
“yakin main DotA? Bisa bunuh musuh ga? Nanti goblok lagi seperti tadi males ah, kamu cupu sih” Dino mengoceh seakan dia gamer paling hebat di luar angkasa.
“ya udah kalau gitu, aku balik kerumah ya, biasa latihan DotA dulu biar jago hahaha…” aku berpamitan dengan Dino.
“okelah…jangan goblok lagi lho…” Dino menjawab dengan masih merasa gamer paling hebat.
 Aku pun bergegas menuju parkir lalu pulang kerumah dengan gagah perkasa karena sudah melontarkan argumen yang membuat si calon anggota dewan tak mampu berkata-kata hahaha.



Aku bukan “diskrimitator”

“selamat pagi!!”
Itulah status ku di semua akun social media yang aku miliki, iya sih ini sudah jam 11 siang, tapi terserahlah karena menurutku pagi adalah ketika aku baru bangun.
Membuka mata, melihat handphone siapa tau ada ucapan selamat pagi dari cewe atau Velin mungkin, dan ternyata tidak ada ucapan apapun, sudahlah lupakan, beranjak dari tempat tidur, menghidupkan komputer, bermain game itulah kegiatan ku sehari-hari karena tugas-tugas kuliahku sudah mulai mereda, jabatan “gila game” tidak membuatku lupa mengerjakan tugas-tugasku.
“bruuumm….bruuuummmm..!!”
Aku mengenali suara ini, bukan mobil balap, bukan juga motor balap, hanya motor tua yang biasa muncul di film tahun 80an. Siapa lagi kalau bukan Wahyu, penggemar SLANK alias slanker yang rambutnya sudah bagaikan senar gitar putus dengan kumis terurai seperti gorden india mengunjungi rumahku.
“Dio! Buka youtube..slank…youtube dong youtube…slank slank!”
Aku tidak mengerti, begitu datang parkir motor tuanya, masuk kekamarku  dan tiba-tiba ngebacot seperti itu.
“apaan….santai dong…lagi main game nih” jawabku risih.
“slank slank….balikin ohhh oh balikin bodi gue kaya dulu lageee…” dia mengambil gitar yang sudah aku letakkan rapi disudut kamar.
Ya Tuhan, hancur sudah hari libur yang indah ini, rencana jadwal kegiatan yang sudah tersusun rapi jadi runyam gara-gara si kumis gorden.
“ya udah, ini laptop, ini modem, dan ini youtube, cari sendiri sana slank mu”  ku ikhlaskan kuota internet untuk dia asalkan game ini berjalan lancar tanpa gangguan.
“emmm….jangan slank deh itu apa namanya Hilton Hilton bagus tuh lagunya..apa ya namanya…woeeee Dio…apa ya namanya...Diooo!!!” Wahyu teriak keras.
“aaaaah kampreeeet!! Apa lagi sih…Paris Hilton!!! Aduuuuh ga mood ah main game, ngerecokin mulu nih” sahutku kesal berkalang benci.
“nah iya Paris Hilton good job, eh daripada bengong jalan- jalan yuk kepantai, anak pantai brooo!!” ajaknya dengan penuh semangat dan dengan bangganya mengatakan “daripada bengong” padahal dari tadi aku sibuk bermain game tapi dia bilang “BENGONG” what the preeet!
“bipp bipp…”
“kak..
Ikut kita jalan-jalan yuk
Kepantai sama temen-temen”
Nada bbm ku berdering, dan yang benar saja, entah kebetulan atau tidak, Velin mengajak ku jalan-jalan ke pantai dengan teman-teman nya.
“Wahyu , kamu serius mau kepantai? Yakin? Ayo ikut Velin kan lumayan tuh rame-rame daripada cuma kita berdua udah kaya homo.” Aku menawarkan kabar gembira kepada Wahyu.
“hah? Velin? Kok bisa sama Velin? Ah aku malu jalan-jalan sama cewe” jawab Wahyu malu malu kucing, eh malu malu anjing deh.
“iya kenapa, malah bagus jalan-jalan sama cewe kan refresh otak bro daripada sama cowo mlulu basi” aku berusaha meyakinkan dia.
“emhh..oke deh…berangkat!! Pantai brooo!!!” semangat Wahyu memang tidak tertandingi.
“oke Velin, kalau sudah didepan gang kabari ya, aku jalan sama Wahyu, boleh kan Wahyu ikut? Apa mobilnya muat? Kan rambut si Wahyu banyak ngabisin space” aku membalas bbm Velin.
“boleh kak ajak aja kak Wahyu biar rame” balas Velin.
Singkatnya, kami semua sudah berada didalam mobil Velin dengan formasi  menyerang dan bertahan  2-2-2, Ardi dan Sandra di lini depan, Velin dan Putri di lini tengah, dan tentu saja Aku dan Wahyu menjadi background duduk dibelakang dihiasi balon gas berbentuk bocah warna pink dan kami bangga tentunya.
“wah tumben menculik kak Dio dan kak Wahyu nih, kalian ga sibuk kan?” Tanya Sandra yang entah kebetulan atau takdir, celana ku dan dia memiliki model yang sama yaitu “robek dipaha”.
“gak kok kita memang pengen jalan-jalan, kebetulan ada kalian” jawabku.
Yap!! Tepat sekali” tambah wahyu menegaskan.
Aroma pantai sudah melesat menghampiri hidung, sudah dekat nih.
“sudah sampai!! Turun-turun!” kata si supir, eh si Ardi dengan badan nya yang besar mengambil tas kamera layaknya fotografer terkenal.
“emmhh….haaaahhhhh…..” menghirup udara pantai, senangnya, serasa bebas, melepas penat. Disebelah kanan hamparan tebing menjulang dengan pohon-pohon entah pohon apa namanya, didepan ada hamparan laut biru yang aku yakin pasti banyak ikan nya, terbukti banyak pemancing berdiri disudut tebing yang mungkin kalau ga dapet ikan mereka langsung nyebur, disebelah kiri terdapat hamparan hotel emm…sudahlah ga usah dibahas hotelnya.
“Dio..ayo kita kesana” ajak Wahyu sambil menunjuk tepi pantai yang rame orang berpose untuk difoto, ada yang foto prawed, ada yang selfie, ada yang ehm…ciuman, pijat memijat dan aaaah kegiatan kegiatan suram deh.
Sementara itu Velin, Sandra, Putri dan Ardi sibuk dengan kamera DSLR yang sedari tadi di setting oleh Ardi mungkin agar gambar yang suram terlihat lebih bagus atau apalah itu.
Karena kami berangkat agak telat, yang seharusnya berangkat jam 3 sore menjadi jam 5 sore, maka hari cepat gelap, sesi pemotretan segera berhenti, dan dilanjutkan sesi curhat para wanita yang kami tidak mengerti mereka membahas apa. Aku dan Wahyu memilih melihat lihat orang memancing  sedangkan Ardi menemani para wanita bertutur kata di salah satu tebing datar buatan tepat diseberang tempatku berdiri.
“udah gelap nih balik yuk cari makan, laper nih” ajak Sandra yang mungkin lupa akan program dietnya.
“oke ayooo…cari kopi juga biar mantap” sahut ku.
Kami segera beranjak namun didalam mobil, terjadi konflik dalam hati ku, dialog dalam mobil yang kurang berkenan bagiku, merusak idealisme yang aku pegang teguh, terlebih ini terjadi antara aku dan…iya Velin si gadis pujaan ku yang sudah menjudge ku secara mendadak dan signifikan, percakapan yang terjadi :
Velin : kak lihat foto yang aku posting, padahal cuma siluet ga kelihatan wajah masa dibilang cantik sih?
Aku : tapi kamu suka kan dibilang cantik?
Velin : ga suka, aku pengen yang jujur, kalau jelek ya jelek
Aku : tapi terkadang pujian kecil juga perlu untuk suatu hubungan lho
Velin : engga ah..aku ga pernah memuji dan ga suka dipuji kalau itu bohong
Aku: tapi masa iya dalam pacaran si cowo ga pernah sekali pun bilang kamu cantik? Apa kamu ga BT? Apa kamu ga berpikir kenapa cowo mu ga pernah memuji kamu, makanya pujian kecil semacam itu perlu juga lho walaupun cuma 1%.
Velin : iya deh nanti kalau aku punya cowo aku bakal puji dia “ya Allah, kamu ganteng sekali!”
Aku : ya ga usah lebay gitu dong
Velin :apa!!? Kakak bilang itu lebay? Itu bagi muslim sangat berarti, aku ga suka kakak bilang begitu!!
Aku : ya ampuun…aku tahu itu, tapi bukan itu maksudku, yang lebay itu caramu memuji cowo, kan aku bilang cukup 1 % pujian kecil, bukan “ya Allah” nya yang lebay aduuuh..
Velin : Saran ku kak, coba deh kurangi sifat menyebalkan kakak… kalau lagi kesel, jangan dilampiaskan ke orang lain
Aku : biar aja orang sebel ya sebel…
Aku dan Velin terdiam, aku sudah kehilangan mood saat itu, aku merasa dia salah paham, dan aku sudah di judge diskriminatif terhadap agamanya, apa yang salah? Kenapa dia begitu sensitive? Yang aku bahas bukan masalah agama, tapi cara memuji seorang cowo, tapi kenapa jadi masalah agama. Sesensitif inikah pola pikir generasi sekarang? Bagaimana dengan yang lain? Wajar saja di media social berhamburan postingan saling hina agama lain, beginikah karakter generasi muda Indonesia saat ini? Hancur perasaanku yang memegang teguh Anti-Tolerance setelah di judge Velin seperti itu. Kami tidak bicara sepanjang perjalanan hingga Velin tertidur dan aku kembali pulang kerumah bersama Wahyu, entah mereka sadar atau tidak perbincanganku dengan Velin sangat sensitive atau pura-pura tidak tahu karena pembahasan yang terlalu berat, aku hanya bisa cuek dan tidak habis pikir bahwa Velin yang aku kagumi berpikir sependek itu, dimana selama ini aku selalu mencoba menghargai pemeluk agama lain.
Tiba dirumah, aku menunggu bbm dari Velin tapi tetap tidak ada bbm dari dia, aku putuskan mengirim bbm duluan, dan dia membalas, terjadi chat basa basi yang ujung nya mengarah pada permasalahan tadi, aku menjelaskan panjang lebar, dia hanya membaca saja tanpa membalas ditandai dengan huruf “R” pada chat yang aku kirim.
Biar saja, aku pikir, mungkin dia memang sangat tersinggung atau malas membahasnya karena dia bukan tipe pemikir seperti aku yang apapun selalu aku pikirkan.
Aku pun beranjak tidur, ditemani alunan music country yang sangat sangat mendamaikan hati. Ke esokan hari nya, tepatnya pukul 08.45 “triitt triiitt…”  bbm ku berbunyi, entah sejak kapan nada deringnya berubah dari bipp….bipp.... menjadi triit triiit….
Itu bbm dari Velin!!
Segera aku membacanya, sambil mengira-ngira apa yang akan dia katakan setelah membaca chat ku kemarin malam.
“aku baru bangun..hoaammm”
Kriik kriiik, tiba – tiba terdengar suara jangkrik, hanya itu? Hanya itu balasan nya?
Aku berusaha berpikir positif, mungkin Velin ingin melupakan perdebatan kemarin, baiklah tidak masalah karena ga ada gunanya jika diperpanjang, mungkin ini lebih baik dengan harapan dalam benaknya aku tidak dicap sebagai seorang yang diskrimnatif, aku tidak mau,,,TIDAK MAU!!!
Oke! Aku beranjak dari tempat tidur, menghidupkan komputer dan….iya! bermain game berharap di kumis gorden Wahyu tidak datang lagi dan semua berjalan lancar.



Bunga Yang Indah, Biji Yang Terlupakan

Dear diare, ups! maksudku diary, yak elah Rock Star punya diary? Apa kata kucingku yang sedang asik tidur diatas bantal kesayanganku.
Pagi ini indah, iya indah karena hari ini hari libur, walaupun mendung sepanjang mata memandang keatas.
Masih ingat Velin? Ya benar dia bocah kecil lucu yang hingga saat ini masih aku dambakan, hubungan ku yang dulu hanya teman sekarang sudah naik level menjadi seorang “kakak”, jadi? Apakah aku harus bahagia? Senang? Sedih? Berduka? Aku bingung,
“trriiittt…triiiittt” nada bbmku terdengar jelas, oh ternyata bukan bbm tapi LINE. Yak!! Velin!! Hahaha beberapa minggu ini kami intens berkomunikasi walaupun sempat naik turun seperti pelana kuda, namun tetap itu karena aku yang selalu cemburu ketika tau dia dekat dengan cowok lain, ironis, sungguh, aku ini siapa? Lalu kenapa cemburu? Lupakan!
“kk” hanya dua huruf itu yang tertera pada chat yang dia kirim
“wah si bocah baru bangun nih” balasku
“iya kak, kemarin buat tugas sampai jam 4 pagi lho, syukur sekarang sudah selesai. Lagi apa?” balasnya lagi
Bla…bla…bla……obrolan kami berlanjut hingga malam hari, benar saja mengobrol dengan nya bisa membuatku lupa melakukan apapun.
Disela sela obrolan chat, kami sempat berdebat kecil, dan muncul dialog :
Aku : ya udah ayo kita duel
Velin : ah aku ga mau kak
Aku : oke kita pegang hidung, siapa yang pegang hidung duluan dia yang menang
Velin : jangan hidung dong kak, nanti hidungku tambah sexy hahaha
Aku: kalau begitu aku tiup hidungmu aja
Velin : loh kok ditiup, emangnya hidungku balon?
Aku : bukan, tapi Dandelion
Velin : apa itu?
Aku sudah menduga dia akan bertanya, dan sebelumnya aku sudah mengambil gambar Dandelion dari internet lalu aku kirim melalui chat, dan mengatakan itulah dandelion
Velin : oh aku tau, kenapa ya lihat dandelion aku merasa ada seuatu, aku dapet arti dari dandelion, Indah, tapi sayang rapuh, keindahan nya hanya buat orang puas meniupnya, udah gitu ya udah, tapi bunga dandelion ini bisa buat orang yang lihat tersenyum ketika dia mulai terbang, tapi kalau aku jadi dandelion aku seneng bisa buat orang tersenyum, aku rela terbang hilang tak terlihat dan bukan apa-apa lagi, rasa di hati ini ganjal banget !!! ada sesuatau rasanya
Membaca filosofi Velin tentang dandelion membuat ku kaget, seperti itukah isi hati yang sedang dia rasakan sekarang? Lalu kenapa sejalan dengan kondisiku saat ini, yang aku juga merasa seperti itu,
“Velin, apa yang mengganjal dihatimu? Lalu kenapa kamu mengibaratkan dirimu seperti dandelion? Apakah ada namaku didalam ganjalanmu? Aku rasa tidak, karena kamu selalu menyangkal dan mengatakan tidak pernah berpikir tentang cowok walaupun aku tidak tau itu jujur atau tidak, kamu begitu misterius Vel”  tentu saja aku berkata demikian hanya didalam hati.
Sejujurnya aku lupa percakapan setelah itu, setidaknya aku seakan-akan merasakan apa yang dia rasakan, dan mulai berfilosofi sederhana terhadap dandelion, apa aku juga seperti dandelion? Kalaupun iya, aku siap terbang, tapi kalau boleh meminta aku tidak ingin terbang karena angin, aku ingin ditiup oleh Velin agar dia bisa tersenyum melihatku terbang seperti filosofi yang dia sampaikan ” ….dandelion ini bisa buat orang yang lihat tersenyum ketika dia mulai terbang……”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar